talent mapping…

hmmmm sebenernya males banget ngebahas topik yang satu ini. tapi hasil sindiran secara langsung siang ini membuat pintu hati saya bener-bener terketuk. apa bener yang dikatakan bapak itu….? atau cuma buat jokes…? [otak berpikir keras  😀 ]. oke, begini ceritanya…

kira-kira 2 minggu yang lalu, di kantor saya bekerja diadakan yang namanya talent mapping [bahasa bengkulu-nya peta bakat]. apa itu talent mapping…? dari english-nya saja sudah terlihat kalau maksud dan tujuannya untuk mengetahui bakat, potensi atau talenta yang dimiliki seorang individu. jadi [opini saya] memudahkan management dalam menempatkan individu tersebut di posisi mana dan kapan bisa di posisikan di sana.

TAPI jujur, saya tidak terlalu tertarik. kenapa…??? alasannya kok di talent mapping baru sekarang, setelah kerja 2 tahun lebih, kenapa gak dari awal waktu seleksi masuk kerja. biar ketahuan bakat, potensi atau talenta yang saya miliki, biar gampang gitu memposisikan saya dimana-nya dan kapan-nya. bahkan ada beberapa rekan kerja yang sudah hampir 30 tahun kerja, baru di talent mapping sekarang. kan lucu, sudah mau pensiun kok baru di baca bakatnya. opini saya yah sia-sia. terserah opini orang…!

saat talent mapping, saya [bersama rekan-rekan kerja lain tentunya] di beri ratusan pertanyaan [lupa tepatnya berapa] dan dalam beberapa bagian. pertanyaannya berupa multiple choice yang berisi pilihan sangat setuju sampai sangat tidak setuju. yaaaaa intinya pertanyaan-pertanyaan tersebut “memaksa” kita untuk memilih antara “bukan gue banget”, “gue” atau “gue banget” [begitu kira-kira bahasa gaulnya]. jujur, kebanyakan pertanyaan tersebut saya jawab sejujur-jujurnya. kalau “bukan gue banget” yaaa saya jawab “bukan gue banget”, simple…! begitu pun sebaliknya  😀

hasil penilaian [assessment] memetakan saya dalam zona merah…! iyah, MERAH. artinya [versi psikolog-nya] saya terlalu banyak memilih point F [gue banget], terlalu banyak sisi dominan-nya. saya tidak tahu kenapa, soalnya saya sudah jawab jujur apa adanya. zona merah ini menggambarkan sisi yang terlalu superior [penjelasan psikolog-nya terlalu ngambang menurut saya, karena tidak memberikan gambaran eksplisit, ke-superior-an itu berada dalam sisi positif atau negatif]. oke, sejenak saya lupakan soal itu. dari sekitar 30-an, hanya 3 orang yang berada di zona merah. saya salah satu-nya pastinya. bahkan, yang seorang lagi di “sunnah” kan untuk mengulang. waktu dibilang berada pada zona merah, sontak ke-2 rekan saya dan saya menjadi bulan-bulanan tertawaan rekan-rekan yang lainnya. dengan sedikit sindiran dengan nada bercanda. itu gak masalah bagi saya. saya sedikit idealis, kalau hasil itu menunjukkan saya apaadanya, kenapa harus jadi orang lain…? kalau itu baik menurut saya yah saya lakukan, ASAL tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku dan hukum Allah pastinya.

– jadi diri sendiri itu menyenangkan –

nah, ini hasil talent mapping-nya…

urutan bakat

urutan bakat

strength typology

strength typology

strength cluster map

strength cluster map

potensi bakat dominan

potensi bakat dominan

peta bakat

peta bakat

adakah teman-teman psikolog yang bisa membaca hasil talent mapping saya dan menjelaskannya serinci mungkin…?  😀

oke, kembali lagi soal sindirian bapak-x siang tadi [diluar itu bener-benar sindiran atau hanya jokes]. intinya bapak itu menyinggung soal hasil talent mapping saya yang katanya “superior” itu. TAPI yang sedikit mengganjal hati saya adalah ada yang bilang ke bapak-x [sebut saja bapak-y] kalau saya terlalu superior. sedangkan bapak-y itu posisi superior-nya dibawah saya. kenapa kata superior saya beri tanda petik dua [” “]…??? karena “superior” disini lebih ditekankan pada sisi negatif-nya. bapak-x bilang kalau saya tipe pekerja individulis dan tidak bisa diajak kerjasama. hmmmm jujur, saya suka banget di kritik [diingatkan] selama kritik itu membangun.  🙂  jujur, saya tidak tersinggung dengan kata-kata bapak-x cuma membuat otak saya berfikir. apakah saya seperti yang diucapkan…? apakah saya memang banyak sisi negatifnya…? individualis dan susah diajak kerjasama…? [sesuai dengan hasil talent mappping saya pastinya].

saya merespon kritikan bapak-x dengan gaya saya sendiri [ketawa ketiwi, cengengesan lebih tepatnya hehehe]. oiyaaa, waktu bapak-x ngomong begitu, itu didepan bapak-bapak lainnya yang saya segani dan hormati pastinya. dan anehnya bapak itu bilang “lanjutkan masbro. kompor gas” dan beberapa bapak lainnya juga bilang begitu “kompor gas…!”…

sumpah, saya bingung  😐   kenapa bingung…?

lagi-lagi frase “kompor gas” itu konotasi negatif atau positif…?

ok, saya tidak akan membantah, saya hanya membela diri atau apalah namanya 😀

# hmmmm begini, disini ditempat saya bekerja, kita dibagi-bagi kedalam beberapa kelompok kerja. kita memiliki kontrak kinerja, sasaran kerja atau apalah namanya yang intinya [menurut opini saya] sebagai media agar kita dapat bekerja dengan baik menjalankan tugas pokok dan fungsi [tupoksi] instansi, membantu mencapai target-target yang telah kita tentukan sebelumnya, sebagai koridor agar kerjaan kita tidak melenceng dari tupoksi dan ini yang paling penting sebagai tanggung jawab moral mempertanggung jawabkan tunjangan yang telah kita peroleh. masa sudah dapat tunjangan [selain gaji pokok] gak mau kerja…? gak malu…?

# lhaaa bagaimana gak individualis, kita kan mengerjakan kerjaan yang sudah menjadi tugas kita [tercantum dalam kontrak kinerja]. dan setiap individu memiliki kerjaan yang berbeda-beda [beberapa saling terkait] dan telah disesuaikan dengan kapasitas tiap individu sebelum kontrak kerja itu di tandatangani diatas materai 6000 rupiah…! masa harus ikut-ikutan mencampuri kerjaan orang lain…? lhaaa kerjaan sendiri saja gak beres-beres [sejauh ini berkutat dengan coding-coding Java, sedikit VB dan sedikit syntax MySQL]  😀  dan apabila ada kerjaan lain yang bisa saya bantu maka saya akan membantu dengan senang hati ASAL saya diminta untuk membantu. kalau inisiatif sudah kapok…! takut dibilang sombong dan songong [emang saya siapa…? hahahaha]. diam dibilang sombong, salah ngomong dibilang songong. pilih mana…? oiyaa dan katanya dulu, kontrak kinerja mempengaruhi besar kecilnya tunjangan, sekali lagi KATANYA…!

# soal kerjasama, memang kita dalam sebuah tim walau dengan tugas yang berbeda [namun saling terkait] dituntut untuk bekerja sama. saya mengerjakan tugas-tugas saya yang telah saya tandatangani di kontrak kinerja. walau banyak GAGAL dari pada berhasilnya….! iya G.A.G.A.L…! [sebenarnya bukan gagal, belum berhasil lebih tepatnya hahaha] TAPI saya gak peduli, yang penting saya sudah mengerjakan tugas saya. titik. nah, apa yang lain sudah mengerjakan tugasnya…? sudah menjalankan kontrak kinerjanya…? jangan-jangan melirik pun tidak…! ini yang dinamakan kerjasama…? padahal kerjaan satu individu berkaitan erat dengan individu lainnya. contoh kasarnya begini, si-A bikin mesin mobil, si-B bikin sasis dan si-C bikin ban. nah kalau si-C tidak mengerjakan tugasnya bikin ban, apa itu mobil bisa jalan…? ini kah yang namanya kerjasama…?

# atau saya dibilang tidak bisa bekerja sama karena tidak mau membantu anggota tim lain atau bahkan tidak mau membantu teman tim saya sendiri…? kalau soal ini, balikin lagi sama point diatas [point individualis]. diam dibilang sombong, salah ngomong dibilang songong. pilih mana…? definisi kerjasama [menurut tafsiran saya] bukan murni pekerjaan yang dilakukan bersama-sama atau keroyokan tapi lebih ditekankan pada mengerjakan tugas-tugas individu yang mendukung atau menyokong kelangsungan team secara keseluruhan.

disini itu, yang penting mencoba, yang penting prosesnya dalam mencapai target.

hasil target itu mau tercapai atau tidak itu urusan belakangan.

bukankah kita tahu kita gagal atau berhasil setelah kita mencoba…?

sekedar tulisan untuk menjawab kritikan dari bapak-x, makasih banget pak sudah diberi masukan. gak salah saya respek dan salut sama bapak  🙂  dan bukannya reaksi ada karena ada aksi pak….? hehehehe dan tidak ada maksud negatif [sindirian, singgungan, SARA, menggurui] terhadap pihak-pihak tertentu dalam setiap tulisan di blog ini.

# “kompor gas” itu istilah di stand-up comedy season 3 yang biasanya dilontarkan indro warkop kalau ada peserta yang stand-up nya bagus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s